Ditulis Oleh: Muzakkir, S.IP
Hari Jadi Bogor ke-544 yang untuk pertama kalinya digelar di Citalahab, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, bukan sekadar perpindahan lokasi perayaan.
Di balik hamparan bukit yang hijau dan pelukan hutan yang mengelilinginya, tersimpan sebuah pesan filosofis yang begitu dalam tentang jati diri Bogor.
Di tempat itu, alam seakan berbicara dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna. Pepohonan yang menjulang mengajarkan tentang keteguhan.
Akar yang menghunjam ke dalam tanah mengingatkan bahwa sebesar apa pun sebuah daerah berkembang, ia tidak boleh tercerabut dari akar sejarah, budaya, dan rakyatnya.
Sementara jalan-jalan yang berliku menuju Citalahab seolah menjadi gambaran perjalanan panjang Bogor selama 544 tahun, penuh tantangan, pengorbanan, dan harapan.
Keputusan Bupati Bogor Rudy Susmanto menggelar peringatan Hari Jadi Bogor di tengah kawasan hutan dan perbukitan menjadi simbol bahwa pembangunan tidak hanya milik pusat kota.
Kemajuan harus mampu menyentuh setiap sudut wilayah, termasuk desa-desa yang selama ini setia menjaga alam dan warisan leluhur.
Sebab sesungguhnya, kekuatan Bogor tidak hanya berdiri di atas gedung-gedung megah, tetapi juga tumbuh dari tanah yang subur, dari hutan yang lestari, dan dari masyarakat yang menjaga nilai-nilai kehidupan dengan kesederhanaan.
Ada keindahan yang sulit diungkapkan ketika perayaan hari jadi berlangsung di tengah kicau burung, desir angin pegunungan, dan hijaunya rimba.
Seolah Bogor sedang bercermin kepada dirinya sendiri, mengingat kembali dari mana ia berasal dan ke mana arah masa depannya akan dibawa.
Bahwa kemajuan tanpa menjaga alam adalah kehilangan, dan pembangunan tanpa merangkul masyarakat adalah kehampaan.
Di usia ke-544 tahun, Bogor tidak sedang merayakan angka. Bogor sedang merayakan perjalanan. Perjalanan sebuah tanah yang sejak dahulu dikenal karena kesuburannya, kekayaan alamnya, dan keteguhan masyarakatnya.
Dari Citalahab, pesan itu bergema lebih kuat: bahwa masa depan yang kokoh hanya bisa dibangun oleh mereka yang tidak melupakan akar.
Maka perayaan di atas bukit yang dikelilingi hutan ini bukanlah sekadar seremoni. Ia adalah simbol kembalinya Bogor kepada ruhnya sendiri. Sebuah pengingat bahwa di tengah derasnya arus modernisasi, masih ada alam yang harus dijaga, sejarah yang harus dihormati, dan rakyat yang harus selalu menjadi tujuan utama setiap pembangunan.
Dari puncak-puncak hijau Citalahab, Malasari Nanggung Kabupaten Bogor seolah berkata kepada dunia: “Aku akan terus melangkah maju, tetapi aku tidak akan pernah melupakan dari mana aku berasal.”***
Tags: Citalahab Malasari, Filosofi Hari Jadi Bogor, Hari Jadi Bogor 544, HJB Bogor 2026, Rudy Susmanto
Baca Juga
-
Berita.Headline
Sekda Kabupaten Bogor Gelar Tarawih Keliling di Citeureup, Bagikan Bantuan untuk Warga
-
Berita.Headline.olahraga
Ketua DPRD Rudy Susmanto Perjuangkan Kesejahteraan Atlet Menuju ‘Bogor Kahiji’ di Porprov dan Peparda Jabar 2026
-
Berita.Headline
Malam Tahun Baru 2026, Bupati Bogor Turun Langsung Pantau Pos Pam
-
Berita.Headline
Buka Puasa Bersama APDESI, Rudy Susmanto: Desa Garda Terdepan Pembangunan
-
Berita.Headline
Pengelolaan PSU Kabupaten Bogor Digenjot, Rudy Susmanto Perkuat Koordinasi Lintas OPD
-
Berita.Headline.olahraga
Bogor Hornbills Juara IBL 2026, Ketua KONI: Kado Terindah HJB ke-544
Rekomendasi lainnya
-
Berita.Headline
Kabupaten Bogor Sabet Dua Penghargaan di Humas Jabar Award 2024, Perkokoh Kinerja Digital
-
Berita.Headline
Pemkab Bogor Ungkap Kebijakan Baru Penjualan Gas LPG 3 Kg
-
Berita.Headline
Program TMMD Terbaik di Indonesia: Bogor Targetkan Pembangunan Desa Lebih Optimal
-
Berita.Headline
Gerakan Tanam Padi di Parung Panjang Dorong Ketahanan Pangan
-
Berita.Headline.Lifestyle
NewRa Agro Adventure Puncak Jadi Magnet Rider Nasional untuk Latihan Downhill
-
Berita.Headline.olahraga
57 Atlet NPCI Kabupaten Bogor Siap Berkompetisi di Peparnas XVII 2024

Lapangan Citalahab Malasari





















