Hari Pers Nasional 2026 datang di tengah lanskap informasi yang berubah drastis. Jika dulu media menjadi satu-satunya gerbang berita, kini setiap orang membawa “redaksi” di genggaman tangan.
Instagram, TikTok, Facebook, X, dan berbagai platform lain menjadikan siapa pun bisa menyiarkan peristiwa, opini, bahkan “kebenaran” versinya sendiri dalam hitungan detik.
Pertanyaannya menjadi relevan sekaligus menggelitik: masih perlukah media dan pers dengan segala aturan, kode etik, dan disiplin verifikasinya?
Di satu sisi, media sosial telah mendemokratisasi informasi. Warga biasa dapat menjadi saksi mata, pelapor pertama, bahkan penggerak isu publik.
Banyak peristiwa besar justru pertama kali viral dari unggahan warga, bukan dari kantor berita. Kecepatan menjadi mata uang utama. Algoritma lebih menentukan jangkauan ketimbang kedalaman.
Dalam ruang seperti ini, pers profesional kerap dianggap lambat, terlalu prosedural, dan kalah gesit dibanding konten kreator.
Namun justru di situlah letak perbedaan mendasarnya.
Pers tidak pernah semata-mata tentang siapa paling cepat berbicara. Pers lahir dari kebutuhan masyarakat akan informasi yang dapat dipercaya.
Di balik setiap berita yang layak disebut jurnalistik, ada proses verifikasi, konfirmasi, penyuntingan, dan pertanggungjawaban hukum.
Ada kode etik yang membatasi, tetapi sekaligus melindungi publik dari manipulasi. Aturan-aturan itu bukan beban masa lalu, melainkan pagar agar informasi tidak berubah menjadi senjata liar.
Hari Pers Nasional 2026 menjadi momen refleksi bahwa banjir informasi tidak otomatis melahirkan masyarakat yang lebih tercerahkan. Justru di tengah ledakan konten, hoaks, disinformasi, dan propaganda menemukan habitat suburnya.
Media sosial memberi panggung yang sama besar bagi fakta dan kebohongan. Tanpa literasi dan tanpa kehadiran pers yang menjaga standar, publik berisiko tenggelam dalam kebisingan, bukan pengetahuan.
Pers profesional berfungsi sebagai penjernih. Ia tidak anti media sosial justru banyak media hidup dan tumbuh di dalamnya tetapi membawa prinsip lama ke wadah baru: cek fakta, keberimbangan, dan akuntabilitas.
Ketika semua orang bisa berbicara, pers mengingatkan pentingnya tanggung jawab atas setiap kata. Ketika semua orang bisa viral, pers bertanya: apakah ini benar? apakah ini adil? apakah ini perlu?
Refleksi Hari Pers Nasional juga bukan sekadar pembelaan romantis terhadap profesi lama. Pers dituntut beradaptasi.
Media tidak bisa lagi merasa paling tahu atau paling berhak atas kebenaran. Publik kini aktif, kritis, dan punya alternatif sumber informasi.
Kredibilitas media harus diperjuangkan setiap hari, bukan diwarisi otomatis. Transparansi, kedekatan dengan pembaca, dan kemampuan menjelaskan isu kompleks menjadi kunci agar pers tetap relevan.
Di era ketika semua orang berlomba menjadi produsen konten, peran pers justru semakin penting sebagai penjaga kualitas informasi.
Bukan untuk memonopoli suara, tetapi untuk memastikan ruang publik tidak runtuh oleh kebohongan yang berulang-ulang.
Media sosial mungkin mengubah cara berita dikonsumsi, tetapi kebutuhan akan jurnalisme yang bertanggung jawab tidak pernah benar-benar hilang.
Hari Pers Nasional 2026 akhirnya mengajak kita melihat pers bukan sebagai institusi yang usang, melainkan sebagai mekanisme sosial yang masih dibutuhkan: untuk merawat fakta, menjaga ingatan kolektif, dan memberi konteks di tengah arus informasi yang serba cepat.
Di dunia di mana semua orang bisa menjadi penyiar, pers tetap diperlukan sebagai penimbang agar kebebasan berbicara tetap berjalan seiring dengan kebenaran.***
Penulis: Muzakkir, S.IP
Tags: Era Digital, Hari Pers Nasional 2026, hoaks dan disinformasi, jurnalisme profesional, kebebasan pers, kode etik pers, literasi media, media sosial, peran media, refleksi pers
Baca Juga
-
Berita.Headline
Bupati Bogor Rudy Susmanto Paparkan Visi Pembangunan Lima Tahun ke Depan
-
Berita.Headline
MTQ ke-46 Kabupaten Bogor Siap Digelar di Kawasan Wisata Puncak Cisarua
-
Berita.Headline.politik
Sahaja, Pilar Sosial di Balik Kiprah Politik Jaro Ade di Pilkada Kabupaten Bogor 2024
-
Berita.Headline.olahraga
Muhammad Al Imran Bikin Kejutan, Tumbangkan Ranking 1 Dunia di Yonex China Para Badminton 2025
-
Berita.Headline
Presiden Terpilih Prabowo Subianto Akan Tinggal di Padepokan Garuda Yaksa, Rudy Susmanto: Momentum Emas untuk Percepatan Pembangunan Kabupaten Bogor
-
Berita.Headline
Pemkab Bogor Resmikan Shortcut Subianto Sentul, Jalan 264 Meter yang Dongkrak Ekonomi Lokal
Rekomendasi lainnya
-
Berita.Headline
Sirvei Lahan Pembangunan SMAN 5 Cibinong, Dechan Berharap Bisa Buka PPDB Tahun Depan
-
Berita.Headline.olahraga
Kabupaten Bogor Siapkan Panggung Besar bagi Atlet Disabilitas Jawa Barat di PESODA 2025
-
Berita.Headline
Pemkab Bogor Ajak PEPABRI dan FKPPI Perkuat Peran dalam Pembangunan Daerah
-
Berita.Headline.politik
Anak Serdadu! Rudy Susmanto Siap Prioritaskan Kesejahteraan Purnawirawan dan Veteran
-
Berita.Headline.olahraga
Kadispora Kabupaten Bogor Pimpin Kontingen di Piala Pj Gubernur Jabar 2024
-
Berita.Headline.olahraga
Big Fight 2024 Dorong Perkembangan Tinju di Kabupaten Bogor





















